30 Januari 2015

Kaligata atau Biduran : Kelainan Kulit yang Menyiksa

Pernah mendengar Biduran atau Kaligata ? Duuuh...semoga hanya pernah mendengar atau melihatnya saja ya. Karena meskipun kelainan pada kulit ini bukan termasuk penyakit berat atau bahkan sampai mematikan, namun kelainan tersebut bisa dibilang sangat-sangat mengganggu bagi penderitanya, termasuk saya.

Secara pastinya saya lupa kapan mulai mengalami menderita kelainan tersebut. Namun masih jelas terekam dalam ingatan saya pada saat menjelang Ujian Nasional ketika saya di bangku SMP, biduran itu menjadi sangat mengganggu konsentrasi belajar saya. Di sisi lain harus fokus dengan seabrek materi yang harus dipersiapkan untuk ujian, namun di sisi lain rasa gatal itu seakan tidak mau kompromi. Semenjak itu saya mulai akrab dengan yang namanya biduran.

Kulit saat biduran (Sumber Foto : mediskus.com)

Kaligata atau biasa orang menyebutnya dengan istilah biduran, atau istilah di dunia medisnya adalah Urtikaria merupakan suatu kondisi kelainan kulit berupa reaksi vaskular terhadap bermacam-macam sebab. Ciri-ciri biduran :
  • Bentol / penonjolan pada kulit dengan batas yang tegas
  • Rasa gatal disertai rasa panas di daerah bentol
  • Berwarna merah muda
  • Awalnya berupa bentol kecil-kecil yang kemudian mengumpul menjadi bentol besar
  • Akan menghilang setelah 1-48 jam
Urtikaria ada dua macam yaitu Urtikaria Akut dan Urtikaria Kronis. Urtikaria Akut umumnya berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari, dan dapat diketahui penyebabnya. Sedangkan Urtikaria Kronis bila sudah timbul akan berlangsung setiap hari selama beberapa bulan, dan umumnya tidak diketahui apa pencetusnya / alergennya.

Nah biduran yang saya alami ini tergolong yang kedua, yaitu urtikaria kronis. Rasa gatal yang diakibatkan biduran atau kaligata ini sama dengan gatal akibat ulat bulu. Dan biduran tersebut bisa timbul di bagian tubuh mana saja, di tangan, lipatan kulit, dada, punggung, muka, bahkan di daerah kewanitaan sekalipun. Sudah banyak dokter saya datangi, dari dokter umum sampai dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin (Sp.KK) namun biduran ini sampai kini masih setia muncul kapan saja. Dokter biasanya memberikan bedak anti gatal dan obat antihistamin seperti : 
  • CTM
  • Dextamin
  • Cetirizine
  • Fexofenadine
  • Iterhistin
  • Ioratadine
Obat antihistamin tersebut akan memblokir efek histamin yang menyebabkan terjadinya biduran, dan akan mengurangi rasa gatal serta menghilangkan ruam / bentol. Namun efek dari obat ini biasanya hanya berlangsung 1x24 jam. Sehingga saya harus minum obat ini lagi keesokan harinya bila tidak ingin timbul biduran. Namun karena takut ketergantungan biasanya saya hanya akan minum pada saat biduran sudah timbul dan rasa gatal sudah tak tertahankan. Dokter sudah menyarankan agar saya mencari tahu apa alergen atau pemicu biduran pada kulit saya. Dari makanan, binatang peliharaan ( terutama kucing ), sampai faktor cuaca. Namun setelah sekian lama saya perhatikan tidak ada satupun yang menjadi penyebab pasti mengapa biduran pada kulit saya bisa datang dan pergi sesuka hati. Saat saya coba makan udang, kepiting, keju, susu, atau makanan pencetus alergi lainnya, kalau biduran sedang bisa berdamai maka diapun tidak muncul. Ataupun pada saat musim penghujan, atau cuaca sedang terik sekalipun, kadang muncul kadang tidak. Sehingga dari sekian banyak pencetus alergi tersebut tidak ada satupun yang bisa saya beri check sign.
Biduran tersebut bila sudah datang berkunjung, setiap hari akan muncul di permukaan kulit yang berbeda-beda, yang nantinya akan menghilang dengan sendiri baik rasa gatal maupun bentolnya setelah beberapa jam. Dan kondisi tersebut bisa terjadi selama berbulan-bulan lamanya. Kemudian tanpa bisa diketahui juga apa yang mengobatinya, biduran tersebut bisa tidak kambuh selama beberapa tahun lamanya meski berada pada cuaca yang sama persis pada saat biduran tersebut kambuh.


Kondisi Tak Bersahabat

Mempunyai kelainan seperti ini tentu saja membuat saya sering berada pada kondisi yang tidak bersahabat. Beberapa kondisi yang sangat tidak bersahabat yang pernah saya alami saat biduran hadir di anatarnya :
  1. Saat Ujian - menghadapi ujian dan tiba-tiba si kaligata datang menghampiri, arrggh...garuk sana, garuk sini sangat mengganggu konsentrasi belajar. Kalau rasa gatal sudah sangat menjadi mau tidak mau minum obat antihistamin. Pada saat itu ibu sering menyediakan CTM, yang harganya relatif terjangkau. Namun efek sampingnya yaitu rasa kantuk yang amat sangat. Jadi gimana dong? gak minum gatalnya gak ketulungan, minum obat malah ngantuk. Serba salah ya jadinya :(
  2. Saat di Pantai Kuta, Bali - Waktu itu sedang jalan-jalan dalam rangka study tour SMA ke Bali selama 3 hari. Pada siang menjelang sore hari di pantai Kuta, biduran datang tanpa permisi. Memang dari paginya selama kunjungan ke beberapa tempat wisata bentol-bentol sudah mulai muncul sedikit. Namun masih bisa ditahan dan karena timbulnya juga bukan di daerah yang terlihat. Namun pada saat tiba di pantai Kuta, saya merasakan bagian leher dan wajah semakin gatal. Makin gatal, makin digaruk saking gak tahannya. Dan tambah lama muka saya berasa semakin menebal akibat bentol-bentol merah yang mulai mengumpul menjadi blok ruam yang besar di permukaan wajah. Saya rasakan saat itu kelopak mata membengkak dan gatal. Kedua pipi juga terasa menebal serta gatal. Berasa seolah-olah saya berubah menjadi Hulk waktu itu. Dan takut malu kalau dilihat teman-teman lainnya, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke parkiran di mana Bis kami menunggu di sana. Sepanjang jalan menuju parkiran bis saya berjalan menundukkan wajah serta menutupnya sebagian dengan jaket, malu bila sampai dilihat orang lain. Berjalan lumayan jauh sekitar 500 meter lebih untuk sampai ke parkiran Bis. Sesampainya di dalam bis, saya hanya tidur menelungkup di kursi  bis sambil menutupi wajah yang terasa sudah semakin menebal sambil menunggu sampai semua teman-teman kembali ke bis. Untungnya sesampainya di hotel tempat kami menginap, beberapa teman langsung membawakan CTM untuk segera saya minum, dah alhasil setelah beberapa saat sayapun tepar akibat efek samping rasa kantuk yang luar biasa.
  3. Saat Jam Kuliah - pada saat jam kuliah si kaligata nakal inipun pernah muncul mengganggu. Dan munculnyapun di leher serta wajah. Kalau di daerah lain, masih bisa saya tahan meski gatal luar binasa. Dan alhasil sayapun akhirnya ijin pada dosen untuk pulang dan tidak mengikuti mata kuliah har itu. Dan lagi-lagi, selama di angkot saya harus menutupi muka saya agar bentol-bentol besar itu tidak terlihat oleh para penumpang lainnya.
  4. Saat hamil - Pada saat hamil anak ke-1 dan ke-2 biduran itupun seakan tidak mau kompromi. Datang mengganggu selama masa kehamilan saya. Benar-benar harus berjuang melawan rasa gatal yang tak terkira, karena terpaksa tidak bisa minum obat antihistamin demi janin. Dan parahnya lagi, menahan sekuat tenaga agar jangan sampai menggaruk pabila bidurannya pas muncul di perut yang membuncit. Bahaya kan, bisa menjadi stretch mark, hiks :(
Biduran di perut bumil (sumber foto : google)
Karena sampai saat inipun belum juga bisa diketahui apa penyebab atau pemicu kaligata yang saya alami, akhirnya dengan lapang hati saya harus tetap bersyukur bahwa Allah masih memberikan kesehatan lainnya dan nikmat yang sungguh luar biasa banyaknya, daripada terpuruk meratapi sedikit kelainan yang saya alami ini. Dan bagi para penderita kelainan ini saya berbagi sedikit tips untuk bisa melewati kondisi yang tidak bersahabat ini.



Tips bagi para penderita biduran apabila kelainan tersebut sedang kambuh :
  • Jaga kebersihan tubuh dan pakaian
  • Jaga kebersihan lingkungan, terutama dari debu
  • Kenakan pakaian dengan bahan yang nyaman, lembut, dan tidak terlalu tebal
  • Oleskan krim atau bedak anti gatal pada daerah yang berbentol
  • Minum obat antihistamin yang aman (konsultasikan pada dokter anda)
  • Hindari dulu mengkonsumsi makanan pemicu alergi pada saat biduran muncul
  • Bila suka jamu, bisa coba konsumsi Jamu Gendong tradisional " kunyit asam + suruh + delima putih ". Alhamdulillah biduran yang saya alami sejak beberapa bulan yang lalu berangsur sirna sewaktu selama 2 pekan saya berlibur ke Semarang, dan di sana setiap pagi saya rajin minum jamu gendong tersebut. 



with love,
 


21 Januari 2015

Pempek Palembang : Kudapan yang Enak dan Bikin Ketagihan

Pempek Palembang - siapa sih yang tidak kenal dengan makanan khas Palembang ini. Teksturnya yang kenyal dengan rasa gurih ikan berpadu serasi dengan cuko yang asam manis pedas segar. Heemm...selalu berhasil membuat saya menelan ludah setiap kali membayangkan kenikmatan kala makan makanan ini.

Sebelum berbagi resep yang sudah saya praktekan mengenai Pempek Palembang, saya mau bercerita sedikit tentang asal mula saya mencicipi makanan asli Palembang ini. Dari kecil sudah sering dengar gongnya nama makanan tersebut, tapi apalah daya baru pertama kali bisa mencicipi makanan ini kala kerja dan mempunyai teman kost yang kebanyakan orang Palembang asli. Dan kebetulan sekali kami sekantor jadi jadwal hari kerja dan liburnya pun hampir selalu sama. Karena pada saat itu kami masih sama-sama lajang jadi setiap akhir pekan biasanya kami sering mengadakan acara rame-rame.Entah jalan rame-rame ataupun acara masak rame-rame di kostan kami. Seru pokoknya !!!... Dan tibalah akhirnya kami rame-rame membuat Pempek. Sekalian menimba ilmu pembuatan pempek asli dari wong kito galo. Dan di situlah awal saya merasakan yang namanya Pempek. Hemm...mungkin inilah yang disebut dengan Cinta pada Cicipan Pertama *tsaaah... Sejak saat itu saya jatuh hati pada makanan yang satu ini. Hingga setelah selang waktu kurang lebih 11 tahunan, baru kali ini saya punya keinginan untuk praktek membuatnya sendiri. Biasanya tinggal beli aja hihihihiii... Ya mungkin karena suami dan anak-anak pada doyan juga, selain karena faktor mahal juga kalau sering-sering beli di luar. Akhirnya penasaran ingin membuatnya sendiri. Dengan harapan bisa dapat pempek enak, murah, dan banyak ( jadi kalau masih pengen ya tinggal goreng lagi ) hehehe... Beda kan kalau beli di luar. Biasanya yang enak harganya mahal, jadi kalau porsi yang sudah dipesan habis, meskipun masih pengen yah berusaha menahan hasrat untuk tidak nambah.

Nah...sekarang yuk intip-intip resep Pempek yang sudah berhasil saya buat hari ini. By the way, ini trial and error saya yang kedua. Alhamdulillah...setelah googling sana-sini akhirnya menemukan rasa dan tekstur pempek Palembang yang pas dengan lidah saya.


Bahan 1 :
  • 30 gram terigu
  • 100 ml air
  • 1 sdm garam
  • 1 sdt gula pasir
  • 8 siung bawang putih, haluskan ( saya suka bawang putihnya banyak karena untuk menghilangkan bau amis ikannya )
  • 1 sdm minyak goreng

Bahan 2 :
  • 500 gram daging ikan tenggiri (bila sudah difillet tinggal kurleb 400gr), haluskan. Masukkan ke dalam freezer sekitar 15-30 menit
  • 100 ml air
  • 1 butir telur, kocok lepas

Bahan 3 :
300 gram tepung sagu Tani

Cara Membuat :

1. Siapkan Bahan 1
  • Haluskan garam dan bawang putih
  • Tuang terigu dalam panci, campur dengan bawang putih yang sudah dihaluskan, gula pasir, dan air. Aduk rata
  • Panaskan di atas kompor dengan api kecil hingga mengental, lalu angkat. Tuang 1 sdm minyak goreng, aduk rata. Simpan sejenak di dalam lemari es.
2.  Keluarkan daging tengiri dari dalam freezer. Campur dengan kocokan telur dan air, aduk rata dengan tangan.
3. Keluarkan Bahan 1 dari dalam kulkas, campurkan dengan Bahan 2 kemudian aduk rata menggunakan tangan.
4. Masukkan tepung sagu Tani sedikit demi sedikit ke ke dalam campuran bahan1+2, sambil diaduk asal saja dengan ujung jari-jari tangan. Usakan untuk tidak meremas adonan, agar hasilnya nanti tidak keras. Jika masih lengket bisa ditambahkan sedikit demi sedikit sagu Tani sampai adonan bisa dibentuk dan tidak lengket. ( kalau saya sudah cukup dengan 300 gr terigu )
5. Panaskan air di wajan cekung yang agak besar ( saya menggunakan wajan Milux teflon, jd seluruh adonan pempek yang sudah dibentuk bisa dicemplungin semua )
5. Bentuk adonan sesuai selera ( lenjer, kapal selam, dll ). Agar tidak lengket, lumuri telapak tangan dengan sedikit minyak.
6. Masukkan pempek ke dalam air yang sudah mendidih ( pastikan air sudah mendidih saat memasukkan pempek agar tidak lengket ). Tapi bila menggunakan wajan serbaguna anti lengket, tidak perlu kuatir lengket.
7. Rebus pempek hingga semuanya mengapung cukup lama, kurleb 10 menit mengapung ( tanda pempek sudah matang sempurna )
8. Angkat dan tiriskan.
9. Pempek siap untuk digoreng

Bahan Cuko :
  • 900 ml air
  • 250 gram gula aren
  • 50 gram asam jawa/madura
  • 2 sdm ebi kering yang sudah dihaluskan
  • 20 cabe rawit

Cara Membuat Cuko :
  • Campur semua bahan di panci, dan rebus hingga mendidih
  • Biarkan selama beberapa jam sebelum digunakan, agar rasa asam, pedas, dan manisnya tercampur sempurna ( ada baiknya cuko dibuat beberapa jam sebelum membuat pempek sehingga pada saat pempek sudah jadi dan siap digoreng, cukonya juga sudah siap ) 
  • Saring cuko pempek, simpan di botol atau toples agar mudah saat akan mengambilnya.
  • Sisa cuko bisa dimasukkan ke dalam lemari es agar lebih awet
 Selamat mencoba...


with love,



17 Januari 2015

Hadiah : Philips Avent NewBorn Starter Kit

Alhamdulillah...akhirnya datang juga yang dinanti sejak pengumuman dari Kegiatan sharing cerita / pengalaman yang diselenggarakan oleh PT. PHILIPS INDONESIA di facebook dan twitter.


Berbekal sharing pengalaman pribadi jadi ya saat menulisnya mengalir begitu saja sesuai dengan kejadian sebenarnya. Dan alhamdulillah tulisan pengalaman ini berhasil dilirik juga oleh juri dari Fanpage Philips Avent. Hadiah yang pas buat baby Kenzo untuk belajar minum dari botol, karena botol ini memang dirancang untuk pemula ( New Born / bayi baru lahir ) dengan keunggulan-keunggulan yang ditawarkan.

Produk botol dari Avent Philips mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut :
  • Terbuat dari plastik PP sehingga BPA Free.
  • Aliran susu dirancang agar menyerupai ritme hisapan bayi, sehingga bayi dengan mudah menyelaraskan antara menyusu langsung dari ibu atau menyusu menggunakan botol.
  • Pada dot, terdapat dua valve sebagai lubang udara, sehingga udara dapat terpisah dengan susu. Teknologi ini mengurangi kolik yang bisa menyebabkan bayi kembung dan rewel. Aliran susu lambat, sehingga cocok untuk bayi baru lahir.
  • Memiliki adapter ring yang berfungsi mencegah kebocoran.
  • Tipe wide neck yang dapat mengurangi resiko bingung puting.
Hadiah ini bisa dibilang hadiah pertama yang saya peroleh melalui blog ini. Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat untuk terus nge-Blog dan menulis lebih baik lagi kedepannya. -aamiin...

with love,


09 Desember 2014

Pengalaman Melahirkan Si Kecil : Mendebarkan dengan Riwayat Perdarahan dan Amniotomi

Meski bukan kehamilan yang pertama, namun kehamilan anak ketiga saya ini bisa dibilang cukup mendebarkan dan menegangkan dari mulai trimester pertama kehamilan hingga trimester akhir kehamilan. Semenjak memutuskan untuk memiliki momongan lagi ( anak ketiga ), saya sudah mempersiapkan mental sejak dini. Dengan pengalaman kehamilan pertama dan kedua menjadikan saya jauh lebih siap menghadapi kehamilan yang ketiga tersebut secara psikis. Namun ternyata semuanya di luar dugaan sebelumnya. Kehamilan ketiga saya tidak berjalan mulus seperti kehamilan pertama dan kedua. Berikut berbagi pengalaman kehamilan saya yang mendebarkan bersama Philips Avent #AVENTBabyBirth.
Sejak mengetahui positif hamil, saya tidak langsung terburu-buru memeriksakan kehamilan saya ke dokter spesialis kandungan seperti yang dulu pernah saya lakukan di kehamilan pertama dan kedua. Saya pikir nanti saja jika usia kandungan sudah memasuki minggu ke-8 atau bulan kedua. Saya mencoba menjalani hari-hari kehamilan saya dengan rileks. Tetap beraktifitas mengajar dan antar jemput anak-anak sekolah seperti biasanya, meskipun kehamilan ketiga saya ini ternyata sama dengan kehamilan pertama dan kedua yaitu saya mengalami mabok hebat di sepanjang hari, bukan hanya di pagi hari ( Morning Sickness ). Saya merasa saya cukup sehat dan kuat. Hingga memasuki usia kandungan di minggu ke-8, pada saat saya bersiap hendak memasuki kelas untuk mengajar tiba-tiba saya merasa ada cairan keluar cukup deras sebanyak dua kali, persis seperti hari-hari pertama bila mengalami menstruasi. Seketika itu perasaan saya menjadi tidak enak. Saya bergegas pergi ke toilet untuk memeriksa apakah gerangan yang terjadi. Ternyata dugaan saya benar, celana dalam saya sudah basah memerah oleh darah segar. Seketika itu saya langsung merasa lemas dan sudah pasrah untuk menerima kemungkinan terburuk sekalipun, yaitu keguguran. Dengan kondisi seperti itu, saya urung mengajar dan meminta ijin untuk pulang. Sesampainya di rumah saya menelpon ke berbagai rumah sakit terdekat yang masih ada jam praktek dokter spesialis kandungannya. Ternyata rata-rata jam praktek mereka sudah habis, dan baru ada jam praktek lagi sore hari. Dan baru sore harinya saya diantar suami pergi ke dokter spesialis kandungan. Saya berusaha menguatkan mental untuk menerima kabar seburuk apapun. Namun alhamdulillah...ternyata Allah sangat menyayangi kami. Dari hasil USG dokter mengatakan bahwa janin masih bisa diselamatkan. Kemudian saya diberikan resep obat penguat kandungan dan vitamin kehamilan, serta dianjurkan untuk total bedrest selama satu minggu penuh. Setelah seminggu meminum obat, flek-flek darah masih keluar juga. Akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan kembali kandungan saya. Setelah di USG, menurut dokter janin dalam kondisi baik dan menjelaskan bahwa flek-flek yang masih keluar tersebut adalah sisa-sisa perdarahan dan akan segera berhenti jika sudah habis. Dan memang benar, setelah dua minggu sudah tidak ada lagi flek-flek yang keluar. Alhamdulillah ya Rabb... Dan sebulan kemudian tepatnya memasuki usia kandungan 12 minggu baru saya periksa ke dokter kembali. Dari hasil pemeriksaan USG baru diketahui kembali bahwa penyebab perdarahan saya waktu itu karena letak plasenta yang sebagian menutup jalan lahir mungkin terkena goncangan acap kali saya bersepeda motor melewati jalanan yang terjal dan berbatu. Namun dengan bertambahnya usia kehamilan dokter memperkirakan semoga plasenta bisa naik sejalan dengan bertambah besarnya ukuran rahim. Dan lagi-lagi syukur alhamdulillah, perkiraan dokter memang benar adanya. Saya sedikit bisa bernafas lega.

Seiring berjalannya waktu, bertambah pula usia kehamilan saya. Dan semenjak terjadinya perdarahan itu saya selalu merasa resah. Kenapa? karena senantiasa muncul kekuatiran bahwa pada saat terjadi perdarahan tersebut ada sebagian anggota tubuh janin yang ikut meluruh. Yaa...saya sangat kuatir apabila nantinya debay lahir cacat. Hampir setiap malam selama sisa usia kehamilan saya tidak bisa tidur nyenyak memikirkan hal itu. Dalam setiap untaian doa yang saya panjatkan, saya selalu memohon pada Allah semoga janin saya baik-baik saja. Dan saya selalu rajin menyantap makanan bergizi dan meminum vitamin yang dokter resepkan setiap bulannya. Dengan harapan besar agar janin saya tumbuh sehat dan normal.

Dan tibalah waktunya kandungan saya memasuki usia 40 minggu. Namun anehnya saya belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan sama sekali. Sehingga pada jadwal kunjungan berikutnya yang kebetulan tepat di usia kehamilan 40 minggu, petang itu sekitar pukul 18.00 WIB dokter memberikan dua buah opsi pada saya, mengingat di usia kehamilan 40 minggu cairan omnion akan semakin berkurang dan kualitasnya akan semakin menurun, serta dikuatirkan semakin lama akan terjadi pengapuran. 
  • Opsi pertama, yaitu dilakukan tindakan Amniotomi, yaitu tindakan untuk membuka selaput amnion dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam rongga amnion.
    Tindakan ini umumnya dilakukan pada saat pembukaan lengkap agar penyelesaian proses persalinan berlangsung sebagaimana mestinya. Pada kondisi selektif, amniotomi dilakukan pada fase aktif awal, sebagai upaya akselerasi persalinan. 
  • Opsi kedua, yaitu menunggu selama 3 hari lagi, dan jika tidak juga terjadi kontraksi maka harus dilakukan induksi. 
Amniotomi

Setelah berdiskusi sebentar dengan suami, akhirnya kami memilih opsi yang pertama. Saat itu juga dilakukan pemeriksaan dalam dan dilakukan tindakan Amniotomi. Tidak memakan waktu lama, hanya sekitar satu menitan. Rasanya agak linu dan sakit pada saat dilakukan robekan terhadap selaput omnion. Dan setelah dilakukan tindakan amniotomi, langsung keluarlah cairan seperti lendir bercampur sedikit darah berwarna merah muda. Kemudian dokter mengatakan bahwa setelah tindakan tersebut diharapkan tengah malam itu atau paling lambat esok harinya saya sudah melahirkan. Dan memang benar, belum juga saya keluar dari klinik, rasa nyeri kontraksi mulai menjalar. Namun karena sorenya sebelum pergi ke dokter saya telah berjanji pada anak-anak akan makan malam di mall, sayapun tetap berusaha menemani anak-anak makan malam di resto yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar lima menit perjalanan menggunakan mobil. Di sana selama menemani anak-anak makan, saya sudah semakin merasakan sakit kontraksi yang makin lama semakin menyengat dan beraturan. Menu makanan yang sudah saya pesan dan tersedia di depan mata seakan tidak mampu membangkitkan selera makan saya. Yang ada saat itu hanya ingin segera pulang ke rumah. Melihat kondisi tersebut, selepas makan kamipun segera kembali ke rumah. Saya merasa waktunya melahirkan sudah dekat. Saya segera mengambil tas yang berisi perlengkapan untuk melahirkan, yang memang sudah saya persiapkan beberapa hari sebelumnya. Saya lihat jam dinding menunjukkan pukul 21.00 malam. Suami meminta ijin untuk mandi sebentar sebelum berangkat mengantarkan saya ke klinik bersalin. Selama menunggu suami mandi, rasa sakit kontraksi semakin kuat dan jaraknya semakin dekat. Dengan berbekal pengalaman melahirkan dua kali sebelumnya, saya meminta suami untuk bergegas. Tepat pukul 21.30 kami sudah sampai di klinik bersalin. Dan saya segera diperiksa, ternyata sudah pembukaan empat. Saya diminta untuk berbaring di tempat tidur untuk bersalin sambil menunggu bidan datang dan perawat menyiapkan semua peralatan. Meskipun itu adalah proses melahirkan yang ketiga kalinya, namun dengan riwayat perdarahan di trimester pertama dan ditambah usia saya yang waktu itu sudah di atas 35 tahun membuat semuanya terasa berat. Suami dengan setia ada di samping saya, berdoa dan senantiasa memberikan dukungan bahwa saya bisa melewatinya. Dan malam itu, tepatnya pada hari Kamis 27 Maret 2014 sekitar pukul 22.30 lahirlah anak kami yang ketiga dengan selamat. Syukur alhamdulillah tak henti-hentinya terucap dari bibir saya dan suami. Semua kekuatiran saya sirna sudah. Debay lahir normal dan selamat tak kurang satu apapun. Berlinang air mata saya atas segala anugerah yang Allah berikan. Debay lahir dengan berat 4100 gram dan panjang 52 cm. Subhanallah...kuasa Illahi yang tiada tara. Dan masih antara haru bahagia, tiba-tiba saya rasakan kecupan hangat suami mendarat di kening saya beserta ucapan " terima kasih ya, Bun...". Dan selang tak berapa lama debay sudah selesai dibersihkan kemudian segera dibisikkan lantunan adzan oleh suami ke telinga si kecil yang kemudian kami beri nama "Rafasha Kenzo Syahrian" yang memiliki arti : Anak laki-laki yang cerdas, pandai, dan berkedudukan tinggi. Semoga kelak engkau tumbuh menjadi anak yang sholeh, cerdas dan memperoleh kedudukan tinggi sesuai dengan namamu ya, Nak... aamiin...

Kenzo beberapa saat setelah lahir

Kenzo usia 1 hari
Kenzo usia 7 bulan 3 minggu

02 November 2014

Masker Pepaya : Sisa MPASI untuk Wajah Berseri

Memiliki kulit wajah yang cantik berseri pastilah menjadi idaman seluruh wanita di dunia. Cantik yang dimaksud di sini adalah kulit wajah yang sehat, berseri, dan tampak segar. Banyak kaum hawa rela merogoh kantong koceknya dalam-dalam untuk memperoleh kulit wajah yang cantik dari mulai oplas, maupun perawatan kulit wajah di salon ataupun dokter spesialis kulit. Padahal di sekitar kita tersedia begitu banyak bahan-bahan alami yang bisa kita gunakan untuk melakukan perawatan wajah sendiri. Buah-buahan, susu, maupun madu adalah contoh bahan alam yang sangat bermanfaat untuk merawat kecantikan kulit kita terutama kulit wajah. Namun biasanya karena alasan malaslah, ribetlah, tidak ada waktulah yang akhirnya membuat para kaum hawa terutama mereka yang disibukkan dengan urusan balita dan tetek bengek urusan rumah tangga akan menyerah untuk melakukan perawatan kulit sendiri di rumah. Nah tips saya kali ini yaitu tentang pemanfaatan sisa MPASI Puree Pepaya untuk memperoleh kulit wajah yang sehat dan berseri.

Kebetulan saya sekarang sedang memiliki bayi lagi, yaitu anak ketiga. Jadilah saya mulai disibukkan dengan urusan MPASI untuk debay begitu usianya menginjak bulan keenam. Pada awal pemberian MPASI pada baby Kenzo saya perkenalkan Puree Pepaya karena teksturnya yang lembut, rasanya yang manis alami, serta ringan dan mudah dicerna oleh bayi usia enam bulan. Namun tak selalu Puree Pepaya yang saya siapkan habis dimakan oleh baby Kenzo. Pada awal pemberian MPASI,  sisa dari Puree Pepaya tersebut selalu saya buang. Tapi lama-kelamaan merasa sayang juga. Akhirnya muncul ide untuk memanfaatkan sisa Puree Pepaya tersebut sebagai masker wajah yang murah meriah tapi memiliki efek yang cukup memuaskan untuk kulit wajah kita.

( foto 3 : setelah 2x pemakaian masker pepaya kulit sudah nampak lebih cerah)

Bahan yang diperlukan :
  • Cukup ambil kurang lebih 2 sdm sisa Puree Pepaya
  • 1 sdt peres susu bubuk full cream

Cara aplikasinya :
  • Campur puree pepaya dan susu bubuk hingga rata
  • Bersihkan kulit wajah kita
  • Poleskan masker pepaya pada permukaan kulit wajah dan leher secara merata
  • Tunggu hingga masker pepaya kering ( kurleb30 - 45 menit )
  • Bilas wajah dan leher dengan air hangat menggunakan washlap, kemudian keringkan dengan lap kering

Nah...ritual tersebut bisa kita lakukan minimal 2 kali seminggu untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dan silahkan anda terkejut dengan hasil luar biasa yang akan anda dapatkan. Saya sudah membuktikan sendiri hasilnya. Baru 3 kali pemakaian, kulit wajah saya nampak lebih cerah berseri dari biasanya. Maklumlah karena jam selesai mengajar saya antara pukul 13.00 - 14.00 WIB. Waktu di mana matahari bersinar sangat teriknya hingga membuat kulit menjadi kusam.

Kandungan zat aktif pepaya untuk kulit wajah :
  1. Antioksidan penyebab komedo, jerawat, dan flek-flek hitam. Kandungan vitamin A, C, dan E pada daging buah pepaya bermanfaat sebagai antioksidan (penangkal radikal bebas) seperti kuman dan bakteri penyebab komedo, jerawat, dan flek hitam.
  2. Antioksidan penyebab penuaan dini. Kandungan enzim papain bermanfaat mendinginkan dan merelaksasi kulit yang terpapar sinar matahari sehingga kulit wajah tidak banyak kehilangan kelembabannya. Hal ini selain menghambat sel-sel kulit wajah mengalami penuaan dini, juga merangsang regenerasi sel-sel kulit wajah yang rusak/sudah mati (peeling).

Tips :
  • Gunakan sisa Puree Pepaya secepatnya, jangan menunggu hingga beberapa jam karena tekstur puree pepaya akan berubah beku seperti agar-agar. Hal ini akan mengurangi penyerapan zat-zat aktif dari pepaya oleh kulit kita
  • Pilihlah pepaya yang sudah matang sempurna, cirinya tektur daging buah cukup memiliki kandungan air dan berwarna merah segar. Kita bisa memilih pepaya california karena tekstur daging buahnya yang lembut saat matang dan rasanya manis pas untuk MPASI.
( foto : google )

- selamat mencoba ;) -