02 November 2014

Masker Pepaya : Sisa MPASI untuk Wajah Berseri

Memiliki kulit wajah yang cantik berseri pastilah menjadi idaman seluruh wanita di dunia. Cantik yang dimaksud di sini adalah kulit wajah yang sehat, berseri, dan tampak segar. Banyak kaum hawa rela merogoh kantong koceknya dalam-dalam untuk memperoleh kulit wajah yang cantik dari mulai oplas, maupun perawatan kulit wajah di salon ataupun dokter spesialis kulit. Padahal di sekitar kita tersedia begitu banyak bahan-bahan alami yang bisa kita gunakan untuk melakukan perawatan wajah sendiri. Buah-buahan, susu, maupun madu adalah contoh bahan alam yang sangat bermanfaat untuk merawat kecantikan kulit kita terutama kulit wajah. Namun biasanya karena alasan malaslah, ribetlah, tidak ada waktulah yang akhirnya membuat para kaum hawa terutama mereka yang disibukkan dengan urusan balita dan tetek bengek urusan rumah tangga akan menyerah untuk melakukan perawatan kulit sendiri di rumah. Nah tips saya kali ini yaitu tentang pemanfaatan sisa MPASI Puree Pepaya untuk memperoleh kulit wajah yang sehat dan berseri.

Kebetulan saya sekarang sedang memiliki bayi lagi, yaitu anak ketiga. Jadilah saya mulai disibukkan dengan urusan MPASI untuk debay begitu usianya menginjak bulan keenam. Pada awal pemberian MPASI pada baby Kenzo saya perkenalkan Puree Pepaya karena teksturnya yang lembut, rasanya yang manis alami, serta ringan dan mudah dicerna oleh bayi usia enam bulan. Namun tak selalu Puree Pepaya yang saya siapkan habis dimakan oleh baby Kenzo. Pada awal pemberian MPASI,  sisa dari Puree Pepaya tersebut selalu saya buang. Tapi lama-kelamaan merasa sayang juga. Akhirnya muncul ide untuk memanfaatkan sisa Puree Pepaya tersebut sebagai masker wajah yang murah meriah tapi memiliki efek yang cukup memuaskan untuk kulit wajah kita.

( foto 3 : setelah 2x pemakaian masker pepaya kulit sudah nampak lebih cerah)

Bahan yang diperlukan :
  • Cukup ambil kurang lebih 2 sdm sisa Puree Pepaya
  • 1 sdt peres susu bubuk full cream

Cara aplikasinya :
  • Campur puree pepaya dan susu bubuk hingga rata
  • Bersihkan kulit wajah kita
  • Poleskan masker pepaya pada permukaan kulit wajah dan leher secara merata
  • Tunggu hingga masker pepaya kering ( kurleb30 - 45 menit )
  • Bilas wajah dan leher dengan air hangat menggunakan washlap, kemudian keringkan dengan lap kering

Nah...ritual tersebut bisa kita lakukan minimal 2 kali seminggu untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dan silahkan anda terkejut dengan hasil luar biasa yang akan anda dapatkan. Saya sudah membuktikan sendiri hasilnya. Baru 3 kali pemakaian, kulit wajah saya nampak lebih cerah berseri dari biasanya. Maklumlah karena jam selesai mengajar saya antara pukul 13.00 - 14.00 WIB. Waktu di mana matahari bersinar sangat teriknya hingga membuat kulit menjadi kusam.

Kandungan zat aktif pepaya untuk kulit wajah :
  1. Antioksidan penyebab komedo, jerawat, dan flek-flek hitam. Kandungan vitamin A, C, dan E pada daging buah pepaya bermanfaat sebagai antioksidan (penangkal radikal bebas) seperti kuman dan bakteri penyebab komedo, jerawat, dan flek hitam.
  2. Antioksidan penyebab penuaan dini. Kandungan enzim papain bermanfaat mendinginkan dan merelaksasi kulit yang terpapar sinar matahari sehingga kulit wajah tidak banyak kehilangan kelembabannya. Hal ini selain menghambat sel-sel kulit wajah mengalami penuaan dini, juga merangsang regenerasi sel-sel kulit wajah yang rusak/sudah mati (peeling).

Tips :
  • Gunakan sisa Puree Pepaya secepatnya, jangan menunggu hingga beberapa jam karena tekstur puree pepaya akan berubah beku seperti agar-agar. Hal ini akan mengurangi penyerapan zat-zat aktif dari pepaya oleh kulit kita
  • Pilihlah pepaya yang sudah matang sempurna, cirinya tektur daging buah cukup memiliki kandungan air dan berwarna merah segar. Kita bisa memilih pepaya california karena tekstur daging buahnya yang lembut saat matang dan rasanya manis pas untuk MPASI.
( foto : google )

- selamat mencoba ;) -

04 September 2014

Sang Penemu : Dunia Anak, Dunia Penuh Imaginasi

Dunia anak, pastilah kita semua sudah pernah mengalaminya. Seru, unik, dan penuh imaginasi. Namun meski sudah pernah mengalami dan melewatinya tetap saja kadang kita merasa tercengang, terbengong-bengong manakala menghadapi hal unik yang terjadi pada buah hati kita. Seperti hal unik satu ini yang saya alami pada " Vivi ", panggilan anak saya yang kedua.

Pada suatu hari dia pulang dari sekolah, dengan gembira ucap salam dan mencium tangan saya. Maknyesss rasanya ya tiap mendapat kehangatan seperti itu dari buah hati kita. Lalu dengan riangnya Vivi bercerita tentang apa yang dia lakukan hari itu di sekolah. Dari mulai bercerita kegiatan menggambar, bernyanyi, sampai pada teman-temannya yang usil juga Vivi ceritakan. Nah...tiba-tiba dia menyeletuk " Bun, kakak punya kejutan deh", sambil tangan mungilnya mengeluarkan sesuatu dari kantong baju seragamnya. Kemudian dengan lucunya dia bilang " Taraaa....liat, Bun. Kakak menemukan manik-manik ini di sekolah ". Makjleb deh rasanya hihihiii... Pengen ketawa saat itu, tapi takut dianya ngambek :). Lalu saya bilang padanya, "Ihh...kakak, jangan sembarangan pungut barang gak jelas di jalan atau di luar rumah. Siapa tau itu kotor, dan ada kumannya ". Eh...di luar dugaan saya tiba-tiba Vivi menjawab " Udah kakak cuci kok bunda di sekolahan tadi. Jadi udah bersih kan, Bun..?" Merasa tidak punya jawaban saat itu untuk menolak akhirnya saya iyakan saja. Esoknya saat Vivi di sekolah, saya beresin rumah dan melihat manik-manik yang ia temukan tergeletak di meja belajarnya. Tanpa pikir panjang manik-manik itu saya buang di tempat sampah. Yang ada dalam pikiran saya saat itu 'apaan sih ini, cuma manik-manik dari plastik'. Sepulang dari sekolah seperti biasa sehabis salam dan cium tangan tiba-tiba Vivi terlihat seperti mencari-cari sesuatu di mejanya. Melihat itu saya tanya apa yang ia cari. Ternyata ia mencari manik-manik yang ia temukan itu. "Waduh, Kak. Udah bunda buang. Orang cuma manik-manik gituan aja". Seketika itu juga wajahnya cemberut, untung tidak sampai menangis. Melihat itu saya jadi menyesal. Akhirnya saya bujuk dia bahwa nanti saya belikan yang baru kalau kebetulan ke toko fotocopy yang biasanya menjual pernak-pernik seperti itu. Diapun mengangguk dan bilang " Tapi janji ya nanti kakak dibeliin ".

Sebenarnya itu bukan kali pertama Vivi menemukan sesuatu benda dan di bawa pulang ke rumah. Sebelum-sebelumnya sudah berkali-kali dia melakukan hal yang sama. Hanya saja baru kali itu dia terlihat cemberut saat mengetahui benda temuannya saya buang. Biasanya dia lupa dan tidak pernah menanyakannya lagi. Berawal dari situ setiap kali Vivi pulang dan bercerita serta menunjukkan benda temuannya. Saya tidak pernah langsung membuangnya. Saya biarkan dia menikmati dan bermain dengan benda temuannya itu dengan catatan benda tersebut sudah bersih dan tidak berbahaya. Kalau sudah lewat beberapa lama, dan tergeletak beberapa hari di meja itu pertanda dia sudah mulai lupa dan bosan dengan benda temuannya tersebut. Barulah saya membuangnya agar tidak memenuhi rumah dengan benda-benda temuannya yang kadang menurut saya 'apaan sih ini' hehehe... Ini contoh benda-benda temuan Vivi yang masih "belum" dibuang :

Vivi dengan salah satu benda temuannya




Dari pengalaman tersebut jadi ada hal berharga yang bisa saya petik :
  • Dunia anak memang sangatlah berbeda dengan dunia kita orang dewasa. Anak-anak lebih berfikir simple, bermain, dan gembira
  • Dunia imajinasi anak bisa merubah benda yang kita lihat tidak berharga menjadi suatu benda yang sangat luar biasa
  • Memberi buah hati kita kesempatan berimajinasi akan membangun kreatifitas anak tersebut, so give it

01 September 2014

Festival Kuliner Serpong 2014 : Datang, Rasakan, dan Jelajahi Kekhasan Kuliner Sulawesi

Jelajah kuliner ?!? Hemm...pasti yang terbayang pertama kali adalah aneka hidangan yang begitu lezat dan menggugah selera ya. Apalagi kalau berjelajah kuliner nusantara, wah tidak pernah ada habisnya.  Nusantara dengan ribuan pulaunya menyimpan begitu banyak cita rasa nan khas yang patut untuk dilestarikan. Siapa lagi kalau bukan tugas kita sebagai pewaris budaya untuk melestarikannya. Sehingga kelak bisa kita wariskan dengan bangga untuk generasi selanjutnya. Betulll...? ;)

26 Agustus 2014

Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku

KISAH di bawah ini beredar di berbagai forum, fanpage facebook, dan blog. Entah siapa yang menuliskannya, namun satu hal yang pasti, kita bisa memetik pelajaran sangat banyak darinya. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.
Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.
Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.
Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.
Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.
Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.
Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

25 Agustus 2014

Mengapa Harga Satu Ampul Darah Mahal ?


Mengapa ya saat kita butuh darah, kita harus membayarnya dengan harga yang cukup mahal untuk tiap ampul darah ? Bukankah PMI memperolehnya dari para pendonor bisa dibilang ' GRATIS ' atau hanya bermodalkan mie instant, susu, bubur kacang hijau, ataupun suplemen penambah darah. Bagaimana bila ada seorang pasien membutuhkan darah dan ada anggota keluarganya yang bersedia mendonorkan darahnya, apakah tetap dikenakan biaya ataukah cuma-cuma. Yuk...kita simak yang berikut ini mengapa satu ampul darah menjadi sangat mahal ketika ada pasien yang sangat membutuhkannya.

Sebenarnya uang yang dibayarkan untuk menebus satu ampul darah bukan untuk membayar darahnya, melainkan untuk membayar biaya-biaya yang diperlukan untuk rangkaian panjang pemrosesan darah tersebut untuk memastikan darah tersebut aman dan layak ditransfusikan ke tubuh pasien yang membutuhkannya. Biaya untuk apa sajakah itu ?
  • Tes HB
  • Tes Gol Darah
  • Tes Tensi
  • Cek Hepatitis B
  • Cek Hepatitis C
  • Cek Hiv/Aids
  • Biaya Screening
  • Biaya Pengolahan
  • Donat,Popmie,Telur,Milo,Air Putih/Makanan lain yg Disediakan.
  • Honor Suster dan Dokter yg memeriksa & mengambil darah
  • Kantong Darah ( masih Import )
  • Tempat penyimpanan darah dengan freezer khusus yang harga per unitnya ratusan juta rupiah
  • Operasional UTD ( Listrik, Telepon, karyawan, mobil PMI, dan lai-lain )

Jadi dengan mengganti biaya pengolahan darah sebesar 250rb/kantong, tentu saja merupakan biaya yang wajar .

*Biaya di atas belum termasuk Cross Mayor/Minor,Wash dan Pengecekan Lebih Mendetail hingga bisa ditransfusikan ke tubuh pasien..

Darah yg Dibutuhkan Pasien pun berbeda2, anda perlu mengenal apakah itu
*- WB 350/450CC
*- PRC 175 / 250CC
*- Trombosit 1orang/ Hasil Olah Beberapa orang
- Dan Jenis Lainnya.

Yang harus kita hindari sesungguhnya adalah jangan sampai stok darah kosong karena masyarakat enggan mendonorkan darahnya, bayangkan jika kita punya uang tapi kebutuhan darah tidak terpenuhi, apa yang akan terjadi ?

Hilangkan prasangka buruk dan negatif, hilangkan tuduhan bahwa ada praktek jual-beli darah, yang harus kita budayakan adalah kesadaran mendonorkan darah secara sukarela...karena setetes darah anda berarti bagi kehidupan mereka yang membutuhkannya